Rabu, 30 Mei 2012

Allah Bersama Kita


Dalam kehidupan memang misteri. Sama juga kita tidak tahu nanti kita mempunyai jumlah anak berapa. Berkaitan dengan ini ada orang yang sudah mengatur jarak kelahiran anaknya bahkan ikut program KB namun kersane pengeran lahir lagi anak. Anak memang karunai Tuhan. Bagi pasangan yang belum punya momongan sangat berharap sekali si buah hati. Segala macam cara ditempuh, bahkan ada yang mengadopsi anak yatim, membeli bayi di rumah sakit dan sebagainya. Sebagai bentuk perwujudan melengkapi isi rumah tangga dengan kehadiran anak.
Kehidupan ada harmoni. Ada senang susah, bahagia sedih, tertawa menangis. Ya, itulah ritme kehidupan. Sama juga halnya berputarnya roda pedati. Kadang di atas, di tengah dan dibawah. Selalu berputar mengikuti arah pemiliknya pergi. Begitu juga kehidupan manusia. Untuk bisa senang, bahagia, tertawa itu pilihan. Begitu juga untuk hidup susah, sedih dan menangis. Beda –dalam hal ini adegan film, sinetron, ludruk, ketoprak. Para pemainnya memang disetting untuk bisa beradegan apa saja sesuai skenario dan arahan sutradara.
Lalu sutradara kehidupan kita itu siapa? Kita sendiri atau orang lain atau bahkan pihak lain? Menjawab ini sebenarnya juga pilihan. Bisa dibuat sulit dan dibuat mudah. Tinggal pilih yang mana. Namun bila ditelusuri lebih lanjut semuanya dikembalikan lagi kepada manusia sebagai pelaku dan yang bertanggungjawab atas diri pribadinya.
Manusia diberi akal, dengan akal manusia bisa memilih baik dan buruk, memilih peluang atau kesulitan, memilih kebahagian atau kesedihan. Ketika dilanda kebahagiaan sudah seharusnya manusia bersyukur. Tidak sembarang makhluk yang diberi anugerah seperti dia. Lalu mendayagunakan potensi dan anugerah yang diterima di jalan kebenaran. Bukan lantas melupakan yang memberi. Tidak lalu melampiaskan dengan hingar bingar lalu lupa diri siapa dirinya. Sama halnya anak SMA setelah kelulusan lalu mencoret-coret bajunya baik laki-laki maupun perempuan lalu berkeliling kota dengan suara knalpot yang memekakkan telinga.  
Bila dirundung duka apa lantas tidak mau beraktivitas? Hanya diam, merenung, menyesali nasib, menyalahkan hidup, menyalahkan orang lain bahkan menyalahkan Tuhan? Tidak tinggal yakni selalu mengeluh. Mengeluh atas yang terjadi pada dirinya. Menangis sejadi-jadinya, melampiaskan kemarahan dengan memecahkan dan membanting apa saja yang bisa diraih. Namun apa setelah itu permasalahan lalu selesai? Ada solusi? Bukan malah semuanya serba berantakan.
Bila hal itu terus menerus terjadi bukan penyelesaian yang terjadi namun malah kesengsaraan yang menjadi-jadi. Hidup tidak teratur bin semrawut. Lalu apa yang harus dilakukan?
Ada berbagai macam cara yang dilakukan. Namun yang perlu digaris bawahi bahwa pada dasarnya manusia hidup adalah berproses. Berproses menjadi manusia. Insan kamil adalah sebuah bentuk harapan. Manusia sempurna. Hanya saja yang juga perlu disadari bahwa untuk mengarah kearah itu tidak serta merta jadi. Seperti bayi yang lahir apa langsung bisa membaca, berdiri dan berlari. Manusia sama pada awal kejadiannya. Orang yang sekarang duduk sebagai presiden, menteri, gubernur, cendikiawan, guru, alim, pengusaha, pejabat dan lainnya pada waktu lahir sama dalam keadaan telanjang, tidak membawa bekal apa-apa. Hanya proses waktu, pendidikan, perawatan orang tua, dan didikan orang tua serta lingkungan yang membentuk pertumbuhan seseorang yang akan membentuk hasil akhir.
Seseorang dalam menyikapi persoalan juga berbeda-beda. Ada dengan tenang, dengan sadar, dengan pesimis dan bisa juga optimis. Terserah memilih  yang mana?
Yang terpenting adalah berusaha husnudzan, berbaik sangka kepada Allah. Allah pastilah mempunyai rencana terbaik bagi kehidupan kita. Hanya kita menyadarinya atau tidak. Bukankah Gusti Allah akan menguji keimanan seseorang? Untuk melihat seberapa jauh tingkat keimanannya. Ada ujian pangkat, kekayaan, kekurangan air, makanaan, buah-buahan. Bahkan anakpun menjadi ujian. Lho, kok bisa. Bisa saja. Karena anak adalah amanah. Terkadang orang tua over protective, sangat menjaga perilaku anaknya. Tanpa disadari anak seperti robot. Begini tidak boleh begitu tidak boleh. Namun membebaskan anak sebebas-bebasnya juga tidak benar. Yang terbaik adalah menjadi sahabat. Namun juga tidak mudah. Diarahkan menuju kebaikan sesuai tuntunan agama hanya disesuaikan dengan perkembagan akal dan jiwanya.
Saya teringat dengan kisah Syaikhona Kholil Bangkalan. Sebagaimana biasa beliau sering mendapat tamu. Oleh karena ulama yang disegani tamunya juga berbagai lapisan masyarakat. Bahkan pejabat penjajah Belandapun juga datang untuk meminta doa barokah, juga orang Tionghoa non muslim. Apalagi orang pribumi sendiri. Banyak sekali dan persoalan yang dihaturkan juga bermacam-macam. Suatu ketika ada tiga orang tamu. Masing-masing mempunyai persoalan sendiri. Satunya belum punya keturunan, keduanya usaha bisnisnya tersendat-sendat bahkan merugi yang ketiga banyak hutangnya. Setelah selesai satu-persatu menyampaikan hajatnya Syaikhona Kholil memberi jawaban yang sama yakni disuruh memperbanyak membaca istighfar. Banyak memohon ampunan atas kesalahan dan dosa yang telah dilakukan. Bila Allah sudah memberi ampunan maka tidak ada lagi penghalang atau hijab atas doa dan ikhtiar yang kita lakukan. Maka akan diijabahi permohonan kita. Seperti itu pula Kiai Ghozali Kholil Pandanasri memberi wejangan kepada para santri di Pondok Pandanasri Kertosono. Untuk memperbanyak istighfar setiap hari.
Lha, Kanjeng Nabi sendiri yang sudah dijamin masuk surga saja minimal sehari membaca istighfar sebanyak 70 kali. Apalagi kita manusia biasa yang bergelimang  dosa. Seharusnya dan sebaiknya juga memperbanyak bacaan istighfar dengan memahami apa maksudnya.
Menghadapi persoalan memang shock. Apalagi permasalahan yang tidak mengenakkan. Namun ada orang yang melaluinya dengan sabar dan tenang. Persoalan dihadapi dengan sabar. Fastainu bisshobri was sholat. Dihadapi dengan sabar dan tetap menjalankan sholat. Yang jelas persoalan harus dihadapi. Kalau lari persoalan tidak akan selesai. Yang diperlukan solusi. Tindak lanjutnya bagaimana, apa yang perlu dikerjakan, apa yang mesti dilakukan. Aksi apa yang perlu diperbanyak, apa yang dikurangi, apa yang seharusnya dikerjakan untuk mendapatkan solusi dan sebagainya. Bisa saja meminta saran dan pendapat dari teman dekat, guru, kiai kita atau juga jasa konsultan. Atau langsung bisa mengeluh kepada dzat yang menguasai alam semesta. Hanya mengadukan segala persoalan kepadaNya.
Yang jelas bahwa Gusti Allah menurut persangkaan hambaNya. Inda dzanni abdi bi. Maka perlu sangat disadari oleh kita bahwa semuanya memang Allah yang mengatur. Hanya saja kita harus berusaha husnudzan berbaik sangka kepada Allah. Pastilah Allah mempunyai tujuan dan pilihan terbaik kepada kita. Tinggal kita berdoa dan berikhtiar untuk segera menyelesaikan yang membelit. Hanya kepada Allah kita berserah dan kepadaNya pula kita memohon pertolongan. Wallahu a’lam bi al shawab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar