Selasa, 17 Januari 2012

Takdir dan Ikhtiar


Rukun iman yang diyakini umat Islam ada 6. Yakni iman kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir dan qadha qadar. Qadha menurut bahasa adalah ketetapan. Biasa diartikan menjadi ketetapan Allah sejak zaman azali, suatu zaman sebelum diciptakannya makhluk. Contohnya adanya anak yang lahir pada hari ini misalnya sebenarnya sudah ditetapkan Allah sebelum pernikahan kedua orang tuanya bahkan sebelum bertemu keduanya pertama kali.
Sedang qadar berarti ukuran. Biasa diartikan pelaksanaan atau ukuran dari ketetapan Allah. Bisa dicontohkan anak yang lahir itu berjenis kelamin laki-laki lahir pada hari Kamis, 12 Januari 2012 pukul 12.00 WIB. Orang lebih mudah menyebut takdir untuk qada dan qadar.
Takdir dibagi dua yakni mu’allaq dan mubram. Mu’allaq artinya takdir yang masih bisa diusahakan oleh manusia. Misalnya karena sakit akut dan kronis, pasien di bawa berobat ke China karena rumah sakit di negeri sendiri sudah angkat tangan. Karena mau ikhtiar maka akhirnya jiwa bisa tertolong. Contoh lain karena menghendaki air dingin maka air dimasukkan mesin pendingin jadilah air “nyes”. Disini berlaku sunnatullah. Ada hukum sebab akibat berlaku. Bila mau menanam maka akan panen. Benda yang dilempar ke atas maka akan jatuh ke bawah. Karena berlaku hukum gravitasi bumi. Sedang takdir mubram, takdir atau ketentuan yang manusia tidak bisa ikut campur. Bila sudah waktunya meninggal ya meninggal. Walau bersembunyi di bunker yang tidak mempan dijatuhi bom nuklir sekalipun. Malaikat Izrail pasti akan menemukan dan mencabut nyawanya juga.
Bila melihat uraian di atas kelihatannya manusia hanya seperti wayang yang manut digerakkan apa saja oleh dalang. Namun senyatanya tidak juga. Karena ada peranan akal dan manusia diberi akal untuk kemaslahatan hidupnya. Memang iradah Allah berjalan seiring dengan ikhtiar akal dan perbuatan yang dilakukan manusia sendiri.
Dalam surah ar-Ra’ad diterangkan bahwa Allah tidak akan merubah nasib seseorang selagi orang itu sendiri tidak mau merubahnya. Jadi peranan akal dan perbuatan manusia ikut berpengaruh pada kesuksesan hidup. Ada orang yang sedari kecil hidupnya miskin dan susah. Ketika kuliah sambil bekerja karena harus menghidupi diri dan membayari sekolah adik-adiknya. Karena ayahnya sudah meninggal. Lalu setelah lulus bekerja sebagai karyawan. Dirasakan tidak merubah nasib lalu keluar dan membuat perusahaan properti sendiri dengan modal relasi dan kepercayaan. Akhirnya hidupnya berubah menjadi lebih baik.
Begitu juga seseorang yang utun atau istikomah dalam mencapai target kehidupan bisa juga akan berubah nasibnya. Sebenarnya kemampuannya biasa-biasa saja tidak ada yang bisa dibanggakan. Namun ada kemauan untuk berubah dan aktif di organisasi mahasiswa yang ada. Ketika waktunya selesai ya selesai seperti teman-temannya yang lain. Ketika teman-temannya menikah, membuat rumah, membeli alat transportasi, kuliah lebih lanjut ternyata dikehendaki Allah bisa juga meraihnya. Ternyata peranan ikhtiar, beribadah mahdoh dan ghoiru mahdhoh juga perlu. Bahkan perlu. Dengan tidak melupakan bermuamalah dengan manusia. Karena dalam kehidupan tidak bisa lepas dengan bergaul dan berkomunikasi dengan banyak orang. Bahkan terkadang komunikasi dengan keluarga sendiri saja tidak bisa. Memang untuk menjadi manusia yang sempurna tidak mungkin namun oleh karena komunikasi adalah penting  maka perlu disadari untuk mempraktekkannya dalam kehidupan.
Dalam kehidupan ada namanya sunatullah. Ada hukum sebab akibat. Bila ingin memanen padi seorang petani harus menanam dulu tiga empat bulan sebelumnya. Bila peternak bebek ingin memanen bebek potongnya maka perlu ‘ngopeni’ bebek sejak tiga puluh lima hari sebelumnya. Lalu dengan tekun memelihara hingga waktu yang telah ditentukan. Tentu saja perlu tahu ilmu memberi makan, agar tidak bau, biar tahan penyakit, memindahkan ke tempat lain bila sudah waktunya dan hingga pemasaran. Memang hidup penuh dengan ilmu bantuan. Ilmu untuk hidup. Memang dengan ilmu, hidup manusia menjadi lebih mudah. Maka benar apa yang telah dijanjikan oleh Allah barang siapa yang beriman dan berilmu maka derajatnya akan diangkat oleh Allah. Dan pasti Allah tidak akan mengingkari janjinya. Beda dengan manusia. Manusia bila berjanji terkadang disiasati agar tidak melaksanakan ketentuan itu. Ya, inilah manusia. Dengan seperti ini katanya agar hidup menjadi ramai. Seramai perkara mencuri sandal jepit lalu disidang di meja hijau. Hingga membuat terkenal “Indonesia” di dunia internasional. Sedang perkara besar minta ampun sulitnya mendapatkan keadilan.
Ikhtiar sudah dilakukan lalu juga berubah nasib. Ini bagaimana? Ada beberapa kemungkinan memang itulah jatahnya. Maka dengan senang hati harus diterima sebagai bentuk qanaah. Kedua, perlu dievaluasi lagi. Mungkin masih ada item yang belum dikerjakan dengan sepenuh hati dan sempurna. Maka ini perlu dikerjakan lagi. Ketiga, mungkin ada penghambat internal dan eksternal. Internal mungkin ada janji atau hutang yang belum terbayar. Atau juga dosa pribadi. Maka perlu untuk selekasnya membayar. Juga taubat perlu dikerjakan. Eksternal, bisa saja berlaku dholim kepada orang lain. Maka perlu memohon keridhaannya.
Bila ada masalah dalam proses ikhtiar itu menjadi hal biasa. Karena kalau berani hidup berarti berani menghadapi masalah. Berani menghadapi kenyataan. Dan tidak lari dari masalah. Yang terakhir ini namanya putus asa. Maka perlu solusi dan langkah untuk menghadapinya. Dicarilah win-win solution. Kadar termudah, termurah, resiko teringan agar bisa melanjutkan kehidupan. Dan dirasa bisa menanggung resiko itu.
Kalau tidak tahu solusinya bisa bertanya pada teman, orang yang bisa dipercaya atau juga teman yang pernah menghadapi masalah yang sama. Bila kita berbuat baik insya Allah pasti ada jalan keluarnya.
Yang jelas manusia wajib berusaha, berikhtiar menggapai cita-cita kehidupan. Hanya Allah yang menentukan hasilnya. Untuk itu perlu bekal ilmu dalam proses ikhtiar agar nanti bisa sesuai dengan tahapannya. Tentu saja perlu guru untuk mengarahkan dan menuntun. Wallahu a’lam bi al shawab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar