Senin, 16 Januari 2012

Mengambil Hikmah dari Kesuksesan Teman


Pada hari Jum’at saya bertemu dengan teman-teman di kampus IAIN Sunan Ampel Surabaya. Banyak teman-teman seangkatan 2009 yang sudah selesai ujian proposal disertasi bahkan ada 4 teman yang akan wisuda bulan April mendatang. Ini berarti bisa menempuh dalam waktu 5 semester. menjadi prestasi tersendiri dan akan menjadi sejarah dalam kehidupan mereka. Bagaimana tidak menempuh program doktor memang tidak bisa dibuat main-main. Perlu keseriusan, pengorbanan, dan menahan kehendak untuk sesaat dalam menempuh studi. Godaan di luar studi memang luar biasa. Misalnya ada proyek di luar, tersita waktu dengan bisnis, menyibukkan diri dengan pekerjaan, kegiatan sosial dan lainnya. Sehingga ada yang sampai batas waktu toleransi 14 semester ada yang belum selesai. Ini yang salah siapa?
Bila menurut Pak Imam Suprayogo tidak selesainya studi dikarenakan tidak bisa memimpin dirinya sendiri. Lho, kok bisa. Bila dipikir memang logis. Para mahasiswa program doktor kebanyakan dosen, lalu ada beberapa guru, sedikit lagi ada pejabat. Mereka ketika mengajar bisa memberi motivasi mahasiswa untuk secepatnya mengerjakan tugas berupa makalah, skripsi dan tugas lainnya. Dan mahasiswa bisa melakukannya dengan baik. Begitu juga guru, bisa memberi support bagi siswa untuk melakukan hal terbaik dalam studinya. Namun kenyataannya kemudian adalah ternyata masih sebatas bisa memberi motivasi dan saran. Belum bisa menggerakkan diri pribadi untuk melakukan hal yang sama. Ini berarti belum bisa memimpin dirinya sendiri untuk ke jalan yang lurus. Tujuan pribadi yang harus segera diselesaikan karena akan datang tugas yang lebih besar sudah ada di depan mata dan menanti kiprah lulusan S3.
Sehabis sholat Jumat di Masjid Ulul Albab IAIN Sunan Ampel Surabaya saya bertemu dengan Pak Ghofar. Ia akan ujian terbuka besok jam 13 WIB. Isteri dan anak-anaknya juga sudah datang untuk memberi support. Memang alangkah bahagianya melihat kepala rumah tangga menjadi teladan karena sudah bisa menempuh dan menyelesaikan studi akademik tertinggi. Bila melihat usia sebenarnya sudah setengah baya. Sebelumnya adalah kabid urais di Kanwil Kemenag Bangka Belitung lalu dimutasi menjadi Kabid Gara Zawa dan Pekapontren. Setelah dilantik, besoknya langsung mengembalikan mobil dinas dan segala inventaris dari jabatannya karena memilih meneruskan kuliah S3. Banyak anak buahnya yang menyayangkan tindakan ini karena semua orang menginginkan jabatan tersebut. Baru lantik langsung dilepas. Namun tekad sudah bulat. Diteruskanlah niatnya.
Ada hikmah dari Pak Ghofar yang bisa diambil agar studi bisa cepat selesai. Tema penelitian yang diambil adalah wakaf dan menelorkan teori wakaf konvensional konsumtif.  Diantaranya:
Uzlah agar bisa fokus. Babel adalah singkatan dari Bangka Belitung. Jarak dengan Surabaya lumayan jauh bila ditempuh sehari pulang pergi. Tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Karena jauhnya itu sehingga Pak Gofar harus tinggal di Surabaya meninggalkan keluarga dan bisa konsentrasi menyelesaikan kuliahnya. Dengan segala resiko tiap hari tanpa mengenal lelah dalam kesendirian menyelesaikan segala tugas kuliah.
Hp dimatikan. Selama proses kuliah kerap hp dimatikan untuk menghindari terpecahnya konsentrasi. Akan dibuka bila sehabis sholat subuh. Praktis tidak banyak terganggu oleh komunikasi via hp.
Dilapangan selama 2 bulan. Selebihnya via telepon. Setelah ujian proposal maka berangkat ke obyek penelitian di daerah sendiri, Bangka Belitung selama 2 bulan. Praktis di sana. Setelah di rasa cukup lalu kembali ke Surabaya uzlah lagi. Bila ada data yang kurang tinggal telepon saja.
Jangan matikan laptop. Menulis membutuhkan mood. Bila enggan menulis maka malas untuk memulai menggerakkan tangan untuk menulis. Apalagi harus menyiapkan laptop atau komputer terlebih dahulu. Makanya jangan matikan laptop. Memang kalau laptop kemampuan baterainya terbatas sekitar 6 jam. Namun kalau komputer kuat hingga 24 jam. Dengan keadaan on bila sewaktu-waktu ingin menulis bisa langsung menulis.
Tiap hari menulis sekaligus referensinya. Bisa menulis bila ada yang ditulis. Bila ada  data yang bisa ditulis. Maka harus ada semangat untuk menulis tiap hari. Dipaksa. Ya dipaksa. Memang banyak yang menyadari untuk kuliah S3 memang dipaksa keadaan. Karena kalau guru kuliah S3 harus membiayai diri sendiri. Beda dengan dosen yang ada jatah beasiswa. Yang mana aturan baru dosen harus minimal S2 dan ke depan harus berpendidikan S3. Maka membaca dan menulis adalah pekerjaan harian yang harus dikerjakan dengan penuh semangat untuk bisa cepat selesai.
Sabar menemui promotor. Menemui promotor atau pembimbing penelitian disertasi bukanlah perkara gampang. Juga tidak sulit. Hanya perlu kesabaran untuk melakukannya. Seperti untuk konsultasi harus ke Jakarta kebetulan karena ada tugas lama di sana. Atau hanya bisa ditemui pada hari Sabtu sore atau Ahad pagi. Bisa juga menunggu sampai selesainya promotor memimpin rapat. Pernah dari pagi hingga siang baru kelar. Ada lagi teman yang lain harus menunggu lama karena pembimbing pergi ke luar negeri. Itulah liku-liku perjalanan penelitian.
Selanjutnya saya juga bertemu dengan Pak Munjin, seorang dosen dari UM. Orangnya energik dan kelihatannya dari alumni pondok. Karena sampai sekarang masih mengajar di pondok pesantren. Ujian tertutup sudah dilaksanakan beberapa hari yang lalu dan ujian terbuka akan dilaksanakan pada bulan pebruari sehingga terhitung bisa menyelesaikan program doktor selama 6 semester. Tips yang bisa diambil adalah:
Fokus walau bekerja dan kuliah. Kalau Pak Gofar waktunya praktis untuk kuliah. Tugas rutinnya dilepas dan mengambil tugas belajar. Maka Pak Munjin diberi ijin oleh rektor namun harus tetap mengajar. Maka praktis selama satu semester masih tetap mengajar sebanyak 12 SKS. Disela-sela itu menggunakan waktu sebaik-baiknya untuk menyelesaikan tugas kuliahnya.
Kerja dimanpatkan. Untuk menyederhanakan permasalahan waktu maka waktu ngajar dimanpatkan menjadi tiga hari full. Sisanya digunakan untuk terjun ke lapangan dan menulis laporan.
Waktu bersama keluarga berkurang. Oleh karena ada beban yang berat antara bekerja dan kuliah maka praktis waktu bersantai bersama keluarga berkurang. Acara keluar sering tertunda. Walau anak-anak merengek minta jalan-jalan. Untungnya isteri dan putranya bisa menyadari. Sebagai gantinya waktu tersisa di malam hari bakda magrib hingga jam 21 digunakan untuk menjaga komunikasi dengan keluarga. Komunikasi berkualitas itulah istilah yang dipakai bagi keluarga karier. Putranya tiga, yang sulung sudah mondok di Gresik.
Tahlil tetap jalan sebagai refreshing. Walau menjadi dosen di perguruan tinggi negeri ketika di rumah tidak bisa lepas dengan tetangga dan masyarakat. Sebagai wujud kebersamaan biasanya ada perkumpulan sebagai wadah silaturahim. Diantaranya tahlilan rutin, khataman qur’an, yasinan, doa bersama karena ada tetangga yang punya hajat. Ternyata kegiatan ini dirasakan sebagai refreshing atau penyegaran karena bisa bertemu dengan tetangga, teman sehingga suasana hati dan pikiran bisa cair. Setelah selesai acara bisa langsung pulang dan mengerjakan lagi.
Kost di dekat lokasi penelitian. Konsekwensi dari penelitian adalah sering berkunjung ke lokasi. Bila jauh dengan rumah maka salah satu alternatif adalah tinggal di dekat lokasi. Makanya Pak Munjid kost di dekat pondok al falah selama beberapa waktu sedang di pondok pesantren sidogiri pasuruan masih bisa dijangkau dari malang sehingga cukup dengan sambil jalan.
Istikomah menjadi imam sholat subuh di mushola sebelah rumah. Rentang waktu membaca dan menulis yakni selesai pulang kerja. Atau malam hari hingga pukul 24.00 – 01.00 WIB. Paling sore tidur jam 11.00 WIB bila keadaan sudah lelah. Walau ritme kehidupan seperti itu masih bisa dan mengistikomahkan sholat subuh di mushola sebelah rumah. Tidak hanya itu juga menjadi imam. Wow, betapa berat dan repotnya. Karena pagi adalah waktu yang paling enak untuk tidur apalagi dalam keadaan tubuh yang payah. Sehingga dalam alunan adzan di sindir assholatu khoirun minan naum. Bahwasanya sholat itu lebih baik daripada tidur. Dan memang diakui bahwa sholat subuh berjamaah di masjid adalah perkara sulit namun juga ibadah yang utama. Yang kedua adalah sholat isya’ berjamaah.
Mengurangi tidur. Tidur adalah kebutuhan. Dengan tidur ada keseimbangan antara waktu bekerja dan istirahat. Tidur bisa merehatkan seluruh anggota badan sehingga setelah bangun badan menjadi segar kembali dan siap untuk beraktivitas. Tidur penting dan aktivitas yang berjibun juga penting sebagai bukti kehidupan. Maka jangan lupakan untuk tidur namun jangan tidur terlalu banyak. Karena madhorotnya banyak. Diantaranya menyia-nyiakan waktu dan umur. Sehingga tidak dikatakan sebagai abdun naum, hamba yang suka tidur. Kontrak hidup yang masih ada perlu digunakan dengan sebaik-baiknya.
Mengurangi tugas atau kegiatan yang dirasa kurang penting. Bisa menempuh studi lanjut adalah anugerah sekaligus amanah. Sementara ini yang urgen. Maka tugas lain yang dirasa bisa digantikan, ditunda atau bahkan tidak dilakukan. Tentu saja yang tahu adalah yang bersangkutan. Acara yang tidak ada kaitannya dengan tugas utama hendaknya memang dikurangi. Agar fikirannya tidak terpecah dan bisa fokus. Disadari memang antara urgent dan penting bedanya tipis. Lagi-lagi yang harus didahulukan adalah yang urgen. Karena keadaan mendesak, prioritas dan tidak bisa ditunda lagi.
Sebelum sholat jum’at kebetulan saya juga kebetulan bertemu dengan teman lama. Namanya Musfiqon. Teman waktu di Unesa. Memang orangnya masih muda seusia saya, energik dan kelihatannya sudah menyiapkan ke mana arah yang akan dilalui dan dituju . Terakhir ketemu pertengahan tahun 2010 sudah menjadi pengawas di Kemenag Sidoarjo. Ia bilang mau ujian kualifikasi dan di tahun 2011 sudah selesai wisuda S3 di IAIN Sunan Ampel. Kemarin dia cerita sedikit bahwa sudah mutasi menjadi widyaswara di Balai Diklat Keagamaan Surabaya. Ada keinginan yang ingin diraih adalah menjadi guru besar.
Demikian beberapa contoh orang yang sukses dalam studinya. Semoga bisa diambil manfaatnya. Wallahu a’lam bi al shawab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar