Jumat, 06 Januari 2012

Desakralisasi Suro...


Bulan Muharam adalah bulan pertama dalam penanggalan Islam. Penanggalan ini dimulai oleh Khalifah Umar bin Khattab dengan patokan mulai hijrah Kanjeng Nabi dari Mekkah ke Madinah. Ketentuannya menggunakan peredaran bulan. Jadi berbeda dengan sistem penanggalan masehi yang berdasar peredaran matahari.
Pada bulan ini banyak sekali peristiwa besar terjadi. Misalnya peristiwa di bakarnya Nabi Ibrahim oleh Raja Namrud namun tidak terjadi apa-apa. Dikeluarkannya Nabi Adam dan Ibu Hawa dari surga. Lalu bertemu lagi di Arafah. Nabi Yunus AS keluar dari perut ikan, Nabi Ayub AS kembali sehat dari cobaan sakit yang parah, kemenangan Nabi Musa AS atas Fir’aun. Dan masih banyak lagi yang lain.
Untuk menyatukan tanah Jawa Raja Mataram Sultan Agung Anyokrokusumo membuat penanggalan Jawa sama dengan sistem penanggalan Islam. Hanya nama bulan yang diganti dengan Suro, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rejeb, Ruwah, Poso, Sawal, Selo, dan Besar. Sedang tahunnya meneruskan tahun saka yang sedang berjalan.
Adanya penanggalan Jawa ini adalah upaya strategis dan karya besar pula yang perlu dicatat dalam sejarah. Karena sangat terjadi seperti ini kalau tidak ada visi besar dalam suatu kerajaan. Ada hal lain yang diterima yakni memudahkan penanggalan menjadi satu sistem dalam satu wilayah kerajaan.
Dalam ajaran agama seluruh bulan dipandang sama. Memang ada beberapa bulan yang mempunyai nilai lebih seperti Rajab, Ramadhan, Dzulhijjah namun tidak ada diskriminasi bahwa selain bulan tersebut membawa sial dan tidak ada keberuntungan. Misalnya di bulan Suro masyarakat Jawa masih ada yang menghindari bila mempunyai hajat, mendirikan rumah, membuka usaha, bepergian, keputusan strategis lainnya. Karena dianggap bisa membawa malapetaka pada diri dan keluarga. Kemudian juga pada bulan ini banyak yang memandikan pusaka.
Namun saya melihat akhir-akhir ini banyak yang mulai berani merubah pakem orang Jawa tersebut. Diantaranya berani mengadakan hajatan mantu atau khitanan pada bulan Syuro. Para developer dalam membangun perumahan sudah tidak melihat bulan dan hari bila sudah ada yang pesan ya dibangun. Karena dalam bisnis siapa yang lebih dahulu dan servise yang memuaskan akan dicari pelanggan. Bahkan ada salah satu dosen saya Dr. H. Isrofil Amar yang juga Ketua PC Nahdlatul ‘Ulama Jombang yang menikahkan salah seorang putranya pada bulan Suro ini dan tidak ada apa-apa. Bahkan katanya lancar dan banyak yang datang. Karena baru ada satu hajatan pada bulan tersebut.
Adanya larangan tepatnya pengalaman dari orang-orang tua dulu atau juga katanya ada primbon tertentu yang menceritakan hal itu kemudian masih ada orang  yang mempercayai memang hal-hal yang sah-sah saja. Cuma tidak boleh sampai membawa-bawa akidah karena memang adanya alam semesta ini beserta penanggalannya untuk keselamatan dan kebahagian manusia. Tinggal manusia memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Wallahu a’lam bi al shawab.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar